Breaking News
Loading...
Sunday, October 15, 2023

Info Post

Impostor Syndrome dan Tinggal di Luar Negeri

@TifaniHayyu

Konferensi di Zuoz, Swiss (PSI, 2023)

Sudah 6 tahun sejak saya memutuskan untuk tinggal di luar negeri karena menempuh pendidikan lanjut, saya merasakan bahwa banyak hal berubah dalam diri. Banyak waktu saya lalui di negeri ini. Saya merasa semakin dewasa, maklum karena saya mulai tinggal jauh dari orang tua sejak berumur 21 tahun, tidak pernah ngekos sebelumnya dan sekalinya ngekos langsung jauh di negeri berbendera terbalik dari Indonesia, yakni Polandia. Saya juga melalui banyak situasi, halangan dan rintangan, dari urusan pendidikan, pertemanan, spiritual, keuangan hingga keluarga. 

Saya yakin banyak orang yang tinggal di luar negeri juga mengalami hal yang sama namun kebanyakan mereka tidak terbuka soal ini. Dimulai dari yang namanya kesepian, karena jauh dari lingkungan Indonesia juga keluarga, khususnya bagi yang belum menikah / belum bertemu jodohnya (wkwk). Hal lain juga mempertahankan pertemanan karena semakin lama kita di negara tersebut, kita menyaksikan banyak orang datang dan pergi, Lalu ada juga kesulitan beradaptasi dengan keadaan yang berbeda 180 derajat di Polandia, seperti kesulitan mencari makanan halal, memilih teman yang baik dan tidak mempengaruhi pemikiran dan perbuatan kita ke arah yang buruk, juga proses administrasi yang cukup njelimet dan menguji kesabaran. Belum lagi hal yang mengganjal dalam pikiran kita sebagai umumnya pada orang dengan usia 25-30an yang kiranya belum kita capai.

Tinggal di luar negeri karena studi lanjut membuat saya sadar bahwa setiap jenjang pendidikan ada tantangannya tersendiri, misalnya S2 tentunya lebih ringan dibandingkan dengan S3. Saat jenjang S3 ini saya mengalami banyak rintangan khususnya sejak pandemi melanda dunia. Imbasnya saya harus mengejar apa yang harus saya kejar sejak sebelumnya. Konsistensi, kesabaran, berusaha, bersyukur dan berdoa adalah kunci sukses dalam setiap kegiatan. Walaupun setiap harinya tentu saja ada keadaan dimana saya tidak percaya, tidak sabaran, tidak yakin, maupun tidak bersyukur, saya harap saya bisa selalu membalikkan pikiran negatif itu sehingga kembali lagi menjalani kunci tersebut.

Arrowbreak exercise, permainan menghilangkan mindset yang buruk dengan mematahkan panah menggunakan leher (MMI, 2023)

Kadang di saat energi saya sedang turun, saya merasakan bahwa pencapaian selama ini adalah hanyalah kebetulan dari Allah, walaupun saya juga tahu bahwa itu tak selamanya benar. Ataupun ketika saya belum mencapai hal yang diinginkan sebelum 30 tahun, yang saya lihat ada orang lain sudah mencapainya, saya merasa bahwa saya tidak/belum pantas mendapatkannya karena mungkin ada hal yang salah dalam diri, entah itu perkataan maupun perbuatan. Hal inilah yang menjadi penyebab demotivasi. Saya berjanji akan melawan perasaan negatif ini dan mengubahnya menjadi kegiatan yang bermanfaat senantiasa bersyukur. Ingat kembali apa saja pencapaian saya selama ini dan bandingkan diri ini dari tahun sebelumnya sampai sekarang. Pikirkan apa yang akan dilakukan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri membuat saya menjadi lebih strategis ketika bertindak untuk mencapai mimpi yang belum tercapai. Setiap orang ada waktunya. Setiap pencapaian ada waktunya. Waktu akan menjawab semuanya.

Artikel ditulis untuk tugas karya positif dari pengalaman traumatis, menyedihkan dan tak menyenangkan (puisi / cerita pendek / artikel) dari Program Vibrasi Jodoh, Singlelillah



Next
This is the most recent post.
Older Post

0 comments:

Post a Comment

Vlog @TifaniHayyu